Make your own free website on Tripod.com

Mahalnya Sebuah HIV-AIDS

 

Seiring dengan surutnya bulan November berbagai kegiatan menyambut peringatan hari AIDS sedunia, tanggal 1 Desember mulai marak. Berbagai seminar, bakti sosial, pertunjukkan anti HIV-AIDS hingga demo seolah turut membulatkan tekad masyarakat untuk memerangi keganasan AIDS.

Penyakit yang telah menjangkiti sekitar 38 juta umat manusia di dunia ini, saat ini menjadi momok yang menakutkan. Thailand, negara berpenduduk 62 juta jiwa, 2,1 % penduduknya terindikasi kena penyakit HIV-AIDS. Sehingga tidak aneh bila di negeri gajah putih tersebut banyak dijumpai hospite (tempat penampungan) para penderita AIDS.

Wat Phra Baht merupakan hospite terbesar yang mampu menampung sekitar 400 penderita AIDS dan rencananya akan membangun lagi hospute yang mampu menampung 12000 pasien AIDS. Kengerian dan kesedihan terlihat nyata di tempat tersebut. Kehidupan hampa tanpa cita-cita menyelimuti setiap kepala penderita AIDS. Dan, nyanyian kematian seraya tak pernah berhenti. Rata rata dalam sehari terdapat tiga penderita AIDS yang meninggal di hospite tersebut, sementara itu sejak berdiri tahun 1992 sudah terdapat 3000 penderita yang meninggal dunia.

Indonesia agak mendingan, Menurut data Depkes, jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia hingga 30 Juni 2004 yang tercatat di RS dan Dinas Kesehatan sekitar 4.389 orang, namun jumlah pengidap HIV/AIDS yang tak tercatat mencapai 130.000 orang. Berdasar laporan P2MPL, dari 1.088 kasus AIDS yang dilaporkan ke lembaganya, 1.031 (94,76%) adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dan 57 kasus (5,23%) adalah Warga Negara Asing (WNA). Kasus AIDS pada WNA terbanyak dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta (42,11%, Bali (17,54%), Papua (14,03%), Maluku dan Jatim (5,26%), Riau (3,52%) dan NTB (3,51%).

 

Dari tahun ke tahun jumlah penderita HIV AIDS semakin bertambah, Kasus pertama ditemukan pada tahun 1987, dan 7 tahun kemudian (Maret 1994) dilaporkan penderita AIDS berjumlah 55 orang, jumiah kumulatif HIV positif 213 orang, tetapi menurut WHO diperkirakan jumiah sebenarnya sudah mendekati 35.000-50.000 orang, suatu peningkatan yang luar biasa banyaknya.

Serupa dengan pola penyebaran di negara-negara lain di Indonesia juga muncul pertama kali diantara orang-orang homoseks; kemudian juga muncul pada sekelompok kecil orang-orang berperilaku resiko tinggi, seperti pecandu obat narkotik, para tunasusila serta pelanggannya. Namun akhirnya penyakit fatal ini menyebar ke seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, pria dan wanita; bahkan sudah ada wanita hamil bukan WTS yang mengidap AIDS. Prosentase terbesar ditemukan pada kelompok usia produktif (15-49 tahun): 82,9%, sedangkan cara penularan yang paling banyak adalah melalui hubungan seksual (95.7%), yang terdiri dari heteroseksual 62,6%, pria homo/biseksual 33,1%.

 

Berbagai reset di tempuh oleh negara-negara maju untuk berpacu melawan AIDS. Serangkain penelitian ditempuh untuk menemukan obat mujarab pembunuh virus HIV AIDS atau minimal menurunkan perkembangan virus tersebut. Ujungnya saat ini, Berbagai obat untuk menurunkan gejala kematian akibat AIDS mulai merebak, ada AZT, Lamivudine, ddC, ddI dan lain sebagainya, namun harga obat tersebut cukup mahal. Itu saja belum mampu membunuh virus HIV. Ketika diterapi virus HIV cenderung mengendap namun begitu obat tidak kontinue diberikan dan terapi berjalan tidak teratur maka virus kembali memekarkan diri.

Untuk setiap bulannya seorang penderita AIDS harus merogoh koceknya sekitar Rp. 1,5 juta untuk beli obat. Sehingga bila dihitung-hitung pengeluaran dalam setiap tahun bagi seorang penderita AIDS adalah 153 juta. Dengan demikian bila seseorang ingin hidup dalam waktu 10 tahun maka minimal harus menyediakan uang sekitar Rp. 1,53 milyar rupiah. Luar biasa!

Keprihatinan penderita AIDS mengundang simpati pemerintah, di tahun 2004 ini saja pemerintah telah menggelontorkan dana sekitar 12 milyar rupiah untuk mensubsidi 5000 pengidap HIV AIDS. Dan menurut rencana di tahun 2005 pemerintah akan mensubsidi setiap pengidap HIV AIDS dana sekita RP 200.000/bulan bagi 10.000 orang, dengan demikian dana pemerintah yang akan disiapkan sekitar 24 milyar rupiah.

Bukan hanya itu saja, tekad bulat pemerintah Indonesia dalam mencegah dan menanggulangi baha HIV AIDS juga terlihat pada APBN. Tahun 2004 anggaran kesehatan masyarakat mencapai 7 trilyun rupiah, namun di tahun 2005 nanti naik 300% menjadi 19,9 trilyun. Dari anggaran sebesar itu, Rp.600-800milyar untuk penanggulangan HIV AIDS di wilayah Indonesia timur, dan khusunya Papua yang meruapakan wilayah terparah dengan 1454 kasus HIV akan mendapat gelontoran dana sebesar 300 milyar rupiah. Papua memang sejak awal diprioritaskan pemerintah dalam penanganan kesehatan, tahun 2002 dana kesehatan mencapai Rp. 27 milyar dan tahun 2003 naik menjadi Rp. 27 milyar.

Kebulatan tekad pemerintah Indonesia ternyata di iringi oleh negara-negara lain di kawasan Asia. Mereka menisihkan dana yang tidak kecil untuk penanggulangan penyakit ini. Di kawasan asia dana untuk pencegahan penyakit ini mencapat 7 milyar dollar AS. Hal ini dilakukan karena dua negara dari sekian banyak negara mengalami konsentrasi tingggi terhadap penyakit ini yaitu Thailand dan India.

Perlu Kesadaran diri, masyarakat dan negara

Besarnya dana tidak akan ada nilainya manakala tidak diikuti kesadaran dari segenap elemen masyarakat. Bahkan, upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya HIV-AIDS yang paling efektif adalah menumbuhkan kesadaran diri dalam setiap pribadi. Kesadaran ini diwujudkan dengan adanya kontrol dan kendali untuk tidak melakukan perilaku seks bebas. Bekal agama menjadi hal yang sangat penting. Setiap pribadi harus senantiasa mempererat ikatan dengan agamanya, memperdalam pengetahuan agamanya dan menumbuhkan rasa takut terhadap pelanggaran dalam agamanya. Keadaran inilah yang harus dimunculkan dalam setiap Individu.

Sementara itu kesadaran masyarakat khususnya keluarga sebagai unit terkecilnya. perlu mengembangkan pola perilaku yang sehat dan bertanggung jawab dan yang memberikan pelayanan dan dukungan pertama dan utama bagi mereka yag hidup dengan HIV/AIDS.

Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat perlu ditingkatkan ketahanannya dengan meningkatkan dan memantapkan peran serta fungsi-fungsi keluarga agar ikut bertanggung jawab membina anggotanya untuk mencegah penularan HIV/AIDS serta tidak bersikap diskriminatif terhadap pengidap HIV/serta penderita AIDS.

Dan, komponen masyarakat lain yang merupakan mitra pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS, yaitu Lembaga swadaya masyarakat (LSM) perlu mengambil langkah-langkah taktis. Promosi anti AIDS , seminar dan berbagai bentuk kegiatan pencegahan dan penanggulangan dirasa efektif apabila dilakukan oleh LSM minimal Untuk menjangkau orang-orang dan kelompoknya, dengan kebutuhan khusus antara lain kelompok remaja, agama, wanita, profesi yang biasanya tidak atau sulit-terjangkau oleh petugas pemerintah.

Semenatar itu peranan negara, negara sebagai pemegang kewenangan perlu membangun kesadaran masyarakat dalam bentuk kesadaran hukum untuk mematuhi peraturan-peraturan yang telah dikeluarkannya termasuk hal yang berkaitan dengan prostitusi dan perilaku seks bebas. Pemerintah membentuk institusi penanggulangan HIV AIDS, membiayai, melaksanakan dan mengontrol jalannya institusi tersebut. Dengan sinergisitas elemen-elemen tersebut mahal dan ganasnya virus HIV AIDS akan teratasi dengan baik.