Make your own free website on Tripod.com

Polling dan Permainan Statistik

Oleh :Joko Subando, S.Si

 

Abstraksi

Polling merupakan fenomena menarik akhir-akhir ini, selain mampu mengungkapkan permasalahan aktual yang relatif cepat dan akurat, publikasinya pun juga cukup genjar lewat koran, majalah, teleivisi maupun website-website internet. Namun, keakuratan polling dalam mengukur pendapat umum di kikis oleh sebagian lembaga yang tidak menerapkan metodologi polling secara standar. Mereka menyelenggarakan polling dengan mengambil responden secara "asal-asalan", lalu hasilnya dipublikasikan secara bombastis. Dengan melihat fenomena seperti itu, bagaimanakah cara mencermati polling yang baik? Menanyakan keabsahan sampel sebagai responden, teknik pengambilan sampel, metode wawancara dan bentuk pertanyaan polling merupakan langkah awal agar tidak terjebak oleh maraknya polling yang kadang kala itu adalah polling palsu. Sampel yang baik adalah sampel yang merepresentasikan populasi, sampel dipilih oleh peneliti bukan memilih dirinya sebagai responden seperti kebanyakan polling-polling di televisi saat ini. Metode wawancara yang akurat adalah dengan wawancara langsung yang dilakukan di seluruh propinsi bila permasalahan yang diangkat adalah permasalahan nasional. Dan bentuk pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang jelas dan tidak membias. Sementara itu mengetahui siapa sponsor pooling, akan membantu dalam memahami temuan polling sebab dapat dimungkinkan penyelenggara merekayasa hasil polling.

Kata kunci ; polling, sampel, populasi, metodologi polling

 

  1. PENDAHULUAN

Mengetahui pendapat umum yang berkembang di tengah masyarakat baik itu berupa sikap masyarakat terhadap kebijakan pemerintah, dukungan masyarakat terhadap partai atau calon presiden,, pendapat masyarakat terhadap produk barang tertentu, merupakan hal penting bagi pemerintah, partai politik maupun instansi swasta.

Pemerintah butuh legalitas dan dukungan dari masyarakat, sehingga mengetahui seberapa besar dukungan atau penolakan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah merupakan hal yang patut diketahui. Bagi partai politik pendapat yang berkembang di tengah masyarakat merupakan senjata utama untuk mengoreksi pemerintah dan menaikkan nilai tawar partai. Seberapa besar dukungan masyarakat terhadap langkah partai merupakan hal yang seharusnya diketahui. Demikian juga bagi sebuah perusahaan, masyarakat adalah konsumennya maka mengetahu apa yang menjadi pemikiran dan perasaan masyarakat terhadap produknya menjadi hal yang penting agar apa yang diproduksi dan diluncurkan ke tengah masyarakat direspon dan diterima dengan baik.

Pendapat umum dapat ketahui melalui, diskusi, pemilu, atau lewat polling. Dan saat ini, polling mulai marak diberbagai media, baik di media massa seperti koran, majalah atau media elektronik seperti radio, televisi maupun internet. Polling menjadi fenomena yang menarik karena mampu menyajikan pendapat umum dalam waktu yang relatif singkat dan mampu menerobos ruang-ruang privat serta memberikan rasa aman bagi orang yang menyampaikan pendapatnya.

Banyak lembaga yang menyelenggarakan polling, baik polling di bidang ekonomi, politik, sosial budaya maupun pertahanan keamanan. Di Amerika Serikat Gallup dikenal sebagai lembaga polling yang cukup kredible, lembaga tersebut telah melakukan polling pemilihan presiden sejak tahun 1936. Dari 18 kali pemilihan presiden hanya sekali memberikan prediksi yang salah, yaitu ketika pemilihan presiden tahun 1948.

Saat itu calon Presiden ada empat, Deway, Truman, Thurmon, dan Wallace, menurut polling yang diselenggarakan Gallup dukungan terhadap Dewey 49,9%, Truman 44,8%, Thurmon 2,0% dan Wallace 4,0 %. Dengan demikian menurut polling lembaga tersebut yang menjadi Presiden AS periode 1948-1952 adalah Deway karena perolehan dukungannya terbesar. Namun ternyata dari hasil pemilu menunjukkan bahwa perolehan suara Deway hanya 45,1%, sedangkan Truman 49,5%, Thurmom 2,4%, Wallace 2,4%. Dengan demikian yang berhak menduduki gedung putih saat itu adalah Truman. Inilah kesalahan tunggal Gallup selama melakukan polling, sementara itu dari 17 kali pemilu yang lain lembaga ini mampu memprediksikannya dengan baik.

Di dalam negeri sendiri lembaga-lembaga Polling juga banyak seperti Lembaga Penelitian Pendidikan dan penerangan Ekonomi-Sosial (LP3ES), Lembaga Survey Indonesia (LSI) , Soegeng Sarjadi Sindicate (SSS) dan lain sebagainya. Lembaga-lembaga di atas akhir-akhir ini sering terdengar karena cukup intens dalam melakukan polling calon presiden, bahkan LP3ES dan NDI (National Democratic Institue) sempat membuat terobosan hebat dalam penghitungan suara pada pemilu putaran pertama 5 Juli lalu yakni Quick Caunt.

Di sisi lain, semakin membludaknya pemilik Hand Phone (HP) dan telepon, semakin menambah meriahnya polling-polling yang diselenggarakan oleh beberapa stasiun televisi. SCTV, TV7 dan Metro TV hampir setiap hari menggelar dan menayangkan hasil polling. Masyarakat dapat mengirim sms untuk mendukung calon presiden pilihannya. Namun, apa yang ditayangkan di media tersebut justru membingungkan masyarakat. Masyarakat menjadi bertanya-tanya apakah temuan polling itu dapat dipercaya atau tidak? Sebab hasil polling antara stasiun TV satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Di TPI samapai tanggal 3 Juni 2004 jam 17.30 WIB pasangan Amin-Siswono memperoleh dukungan 44,40%, SBY-JK 32,13%, sementara itu polling di stasiun SCTV sampai hari itu juga pasangan Amin-Siswono memperoleh dukungan 42, 26%, SBY-JK 37, 34%, pasangan lain, Wiranto-Shalahudin, Mega-Hasyim dan Haz-Agum memperoleh dukungan di bawah 11 %. Di TV7 (sampai tanggal 4 Juni 2004 jam 13.00 wib) pasangan SBY-JK memperoleh dukungan 29,97 % sementara pasangan Amien-siswono 28,89%. Nah, dengan melihat fenomena diatas bagaimanakah cara mencermati temuan polling yang baik?

 

  1. KAJIAN TEORI
  2. Polling adalah suatu kerja pengumpulan pendapat umum dengan menggunakan teknik dan metode ilmiah. Metode yang dipakai untuk mengenali pendapat itu adalah survei yaitu suatu metode dimana obyek adalah orang atau individu dan menggunakan kuisioner sebagai alat untuk mendapatkan data/informasi.

    Karakteristik utama polling adalah berkaitan dengan publikasi hasil penelitian. Pertama, waktu penyelenggaraan dan publikasi terbatas. Jawaban seseorang adalah pada saat wawancara dilakukan.dan publikasi dilakukan ketika isu masih hangat. Bila wawancara dan publikasi tidak segera dilakukan maka isu akan segera hilang dan apabila polling tetap dilakukan maka hasilnya tidak akan banyak membawa manfaat. Kedua, polling hanya menangkap fakta. Ketika muncul isu UULL(undang-undang lalu lintas) maka polling hanya menangkap apakah masyarakat setuju atau tidak. Lain dengan survey akademik yang diperlukan justru penjelasan mengapa mereka setuju atau mengapa mereka tidak setuju.

    Tahap awal dari semua kegiatan polling adalah mendesain polling, polling didesain dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah dalam metode penelitian sosial yang sering disebut dengan metodologi polling.

    Pertama, mengidentifikasi tujuan polling. Masalah penting adalam polling adalah merumuskan dengan tepat tujuan polling yang akan dibuat. Tujuan yang ditetapkan akan menentukan semua instrumen polling yang akan digunakan, target populasi, tipe informasi, waktu wawancara, dan metode wawancara.

    Kedua, populasi dan kerangka sampel polling. Populasi polling ditentukan oleh topik dan tujuan yang akan dibuat. Misalnya kalau mau mengetahui sikap masyarakat terhadap likuidasi bank maka populasi yang relevan adalah para pemilik rekening di bank. Kalau ingin mmengetahui pendapat masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu maka populasinya adalah para pemilih pemilu. Sampel merupakan bagian dari populasi. Sampel diambil karena melakukan penelitian terhadap semua anggota populasi adalah hal yang tidak mungkin dilakukan, bila populasinya cukup besar.

    Ketiga, menentukan teknik penarikan sampel. Teknik penarikan sampel apa yang akan dipakai ditentukan sebelum polling dikerjakan. Pertimbangan yang dipakaii untuk menetukan teknik penarikan sampel diantaranya adalah ada tidaknya kerangka sampel. Apabila kerangka sampel telah tersedia dapat memutuskan memakai teknik sampel acak sederhana atau sistematis. Tetapi apabila kerangka sampel yang memuat populasi belum tersedia dapat menggunakan teknik klaster. Pertimbangan lain, sampelnya menyebar atau mengumpul. Jika menyebar, lebih efektif mengunakan sampel klaster namun jika mengumpul maka lebih tepat mengunakan sampel acak sederhana atau stratifikasi.

    Keempat, menentukan tipe informasi. Dalam polling, cara untuk mengetahui pendapat/perilaku adalah dengan bertanya, data tidak dapat diperoleh dengan observasi atau partisipasi tetapi menanyakan langsung kepada responden. Dengan daftar dibuat untuk menanyakan apa yang mereka rasakan atau yang mereka pikirkan terhadap isu-isu tertentu.

    Kelima, waktu wawancara. Desain polling juga harus mempertimbangkan apakah polling dibuat untuk sekali waktu (survey cross-sectional) ataukah rangkai waktu (survey longitudinal). Polling dapat dipandang sebagai pendapat yang disampaikan seseorang waktu wawancara dilakukan. Disisi lain, polling juga dapat dipandang sebagai survey longitudinal yang mengumpulkan pendapat individu dari waktu ke waktu untuk melihat perubahan perilaku, sikap atau kepercayaan masyarakat. Perbedaan utama kedua desain diatas adalah bahwa pada survey longitudinal harus menanyakan secara tepat pertanyaan yang sama setiap waktu, dan melihat perubahan yang dapat dilihat setiap waktu itu. Sementara untuk survey cross-sectional sekali bertanya kemudian dianalisis dan disimpulkan.

    Keenam, menentukan metode wawancara. Metode wawancara ditentukan sebelum polling dijalankan-apakah memakai metode wawancara langsung, lewat surat atau wawancara lewat telepon. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, untuk wawancara langsung kita medapatkan informasi secara mendetail namun butuh waktu yang lama, sementara untuk wawancara lewat telepon kita dapat cepat menyelesaikan polling tapi kendalanya tidak banyak masyarakat yang memilki telepon sehingga sampelnya kurang mewakili dan kalau lewat surat, banyak surat yang tidak direspon oleh responden walaupun semua kerangka sampel disurati.

    Ketujuh, Setelah semua data/informasi tersedia, langkah terakhir adalah menganalisis data. Biasanya data di analisis berdasarkan prosentase kemudian disimpulkan dan digeneralisasi ke tingkat populasi.

     

  3. Pembahasan

Polling sebagai suatu metode pengukuran pendapat umum mempunyai keterbatasan, yakni amat tergantung kepada teknik dan metode yang dipakai. Berdasar karakternya yang sangat tergantung oleh waktu dan kemampuannya hanya menangkap fakta, maka jika melihat hasil polling harus cermat, Ada beberapa pertanyaan yang harus dilontarkan dan harus didapatkan jawabannya lebih dahulu sebelum menerima hasil poling yang ada. Beberapa pertanyaan tersebut adalah

  1. Siapa yang mensponsori polling?
  2. Dengan mengetahui siapa yang mensponsori polling, akan membantu dalam membaca temuan polling. Hal ini tidak berarti sponsor polling selalu merekayasa hasil polling, tetapi pengetahuan itu dapat menyingkap kepentingan yang mendasari diselenggarakannya polling, apa yang ingin diperoleh sponsor tersebut dengan melakukan polling-apakah hanya sekedar kepentingan akademis ataukah kepentingan ekonomi dan politik.

    Contoh bagaimana sponsor mempengaruhi polling adalah polling yang pernah dilakukan gedung putih pada tahun 1972. Setelah Nixon memerintahkan penghancuran pangkalan militer Vietnam utara, juru bicara gedung putih melaporkan bahwa publik Amerika mendukung langkah Nixon, sebab pada waktu polling mereka yang tidak setuju banyak yang tidak ditabulasi dan dihitung .

  3. Apakah ada tujuan khusus dari penyelengara polling?
  4. Pertanyaan penting yang harus diberikan ketika membaca polling adalah digunakan untuk apa hasil polling tersebut. Apakah untuk kepentingan bisnis, sebagai strategi pemasaran, untuk kampanye suatu program/kebijakan, sebagai sumber berita surat kabar/majalah, untuk evaluasi program, ataukah untuk mengangkat kandidat tokoh politik.

    Polling dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana kekuatan seorang kandidat di depan publik dan dapat secara akurat mengukur bagaimana persepsi lawan politik. Atau dalam bahasa yang lain polling dapat digunakan untuk menciptakan citra yang berbeda dari lawan politiknya. Hal ini menjadi faktor kemenangan Reagen atas Carter pada pemilu AS tahun 1984. Konsultan polling Reagen, sebelum kampanye membuat polling untuk menanyakan kepada pemilih apa penilaian mereka terhadap Carter. Publik berpendapat bahwa Carter, terlalu lemah atau tidak tegas dalam mengambil keputusan(diantaranya adalah berlarut-larutnya penyelesaian sandra di Iran). Karakter Carter yang lemah dimanfaatkan kubu Reagen dalam kampanye untuk menampakkan sosok Reagen yang tegas dan pemberani dalam bertindak serta mendengung-dengungkan heroisme dalam setiap kampanyenya. Inilah salah satu bukti bahwa polling mampu mengangkat kandidat tokoh politik. Mengetahui dengan baik tujuan diselenggarakan polling akan membantu memahami temuan polling sehingga tidak mudah terbuai dengan angka-angka polling.

  5. Siapa populasi polling dan bagaimana kerangka sampel disusun?

Populasi diambil biasanya dihubungkan dengan tujuan atau topik. Pengetahuan tentang populasi penting, untuk menilai apakah sampel yang diambil relevan dan sesuai dengan tujuan polling. Misalnya polling dengan topik nasib buruh di Solo. Populasi yang relevan adalah buruh/pekerja di Solo. Tetapi, bila dalam polling yang diambil adalah mahasiswa Solo dan menanyakan kepada mereka bagaimana pandangannya terhadap nasib buruh saat ini, tentu saja hal ini tidak tepat. Karena tidak tepat hasilnya pun mempunyai kemungkinan tidak tepat.

Selain populasi, penting juga diketahui bagaimana kerangka sampel diambil. Dalam polling mengenai nasib buruh misalnya dari mana kerangka sampel disusun, apakah dari daftar nama yang sudah ada di departemen tenaga kerja, dafatar buruh di Jamsostek, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia ( SPSI), atau mendaftar satu per satu buruh yang ada di seluruh kota tersebut. Seringkali peneliti kesulitan menetukan kerangka sampel yang sempurna sehingga mereka hanya mengambil data begitu saja, andaikan dalam polling mengambil data daftar buruh/pegawai dari jamsostek atau SPSI maka harus hati-hati dalam membaca temuan polling. Bila polling berkaitan dengan gaji maka tidak dapat digeneralisasi bahwa semua pegawai mengatakan gaji tidak sesuai, karena kerangka sampel yang diambil tidak menyeluruh, sebab tidak semua buruh/pegawai terdaftar dalam Jamsostek/SPSI.

Polling-polling yang diselengarakan TV, Radio atau koran dengan mengirim sms juga tidak dapat digeneralisasi ke tingkat populasi hal ini disebabkan pemilik telepon atau hp tidak begitu banyak (10% penduduk).

Hal lain, baru saja Solopos menyelenggarakan polling berkaitan kebijakan pemerintah kota terhadap pasar- menurut anda, sejauh mana keseriusan pemerintah kota dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran pasar? Mekanisme polling, masyarakat umum atau siapa saja boleh memberikan aspirasinya lewat sms, dengan menjawab pilihan yang ada. Hasilnya, kebijakan pemerintah kota dinilai masyarakat belum serius dalam mengantiipasi kebakaran pasar. Bila dicermati polling ini kurang pas. Sebab sampelnya diambil bukan dari orang yang pas. Mestinya sampel diambil dari orang yang tahu dan berkaitan langsung dengan pasar, misalnya pedagang-pedagang pasar klewer, pasar gedhe, pasar legi dan lain sebagainya, bukan masyarakat secara umum.

  1. Bagaimana karakteristik sampel?

Dalam membaca data polling, karakteristik sampel dapat membantu untuk memahami temuan polling. Misalnya sebuah polling menempatkan tokoh A sebagai kandidat kuat Presiden Indonesia, perlu diteliti karakteristik responden polling-apakah berasal dari desa atau kota, apakah berlatar belakang pendidikan rendah atau tinggi. Sebab hasilnya bisa berbeda jika sampel yang diambil banyak yang berasal dari masyarakat berpendidikan tinggi begitu pula sebaliknya. Dan secara teoritis sampel yang berasal dari kota berbeda pandangan dengan sampel dari desa. Ini akan membantu dalam mengkritisi angka-angka polling, sehingga tidak tertipu dengan angka polling yang disajikan.

  1. Sejauhmana presisi hasil polling?
  2. Kalau teknik pengambilan sampel berhubungan dengan pertanyaan apakah data dapat digeneralisasikan kepada populasi yang lebih luas, maka presisi berhubungan dengan sejauhmana data hasil polling mendekati kebenaran dari hasil sesungguhnya. Cara paling mudah untuk mengetahui presisi adalah dengan melihat sampling error yang dipakai dalam polling.

    Data mengenai sampling error penting, terutama apabila kita menafsirkan data polling dengan proporsi antara mereka yang setuju dengan yang tidak setuju relatif berimbang. Misalnya polling berkaitan dengan fatwa presiden wanita haram. Ketika ditanya setuju atau tidak setujukah anda dengan fatwa presiden wanita haram? Proporsi responden yang setuju dengan yang tidak setuju : 45% : 55%. Bila sampling error yang dipakai 5% maka agak riskan untuk menyimpulkan bahwa masyarakat tidak setuju dengan fatwa presiden wanita. Sebab presentase sesungguhnya, masyarakat yang tidak setuju adalah sebesar 50% 60 % agak berimbang dengan mereka yang menyatakan setuju yaitu 40% 50%. Inlah pentingnya presisi.

  3. Sejauhmana arti penting isu terhadap orang yang diwawancarai?
  4. Memastikan apakah responden yang diwawancarai berkata yang sebenarnyaa adalah hal yang tidak mudah. Kuisioner bukanlah mesin kejujuran yang dapat menghasilkan data yang benar-benar jujur dari responden. Yang dapat dilakukan adalah menyusun instrumen dan menciptakan suasana yang mendukung sikap kejujuran responden dalam menjawab pertanyaan. Salah satu aspeknya adalah responden mengetahui isu yang ditanyakan. Melakukan wawancara kepada responden yang tidak tahu terhadap isu akan terjadi bias, sebab pada akhirnya yang didapatkan bukanlah pendapat responden tetapi kebingungan atau ketidaktahuan responden.

    Ketika membaca polling, langkah sederhana untuk mengetahui hal itu adalah dengan mengamati apakah isu yang ditanyakan itu relevan bagi responden. Menanyakan isu penurunan saham terhadap masyarakat umum tentu saja tidak relevan karena banyak mereka yang tidak tahu mengenai isu tersebut. Ketidaktahuan responden terhadap isu menyebabkan hasilnya bias.

    Majalah balairung UGM pernah melakukan polling mengenai pemilihan rektor. Sampel polling adalah mahasiswa UGM. Salah satu item pertanyaan adalah "Apakah anda setuju dengan mekanisme pemilihan rektor seperti sekarang ini? Hasilnya : setuju 53, 74%, tidak setuju 40,82% dan tidak tahu 3,40%. Pertanyaan lain. : apakah anda setuju apabila mahasiswa dilibatkan dalam proses pemilihan rektor?" hasilnya: setuju 93,42%, tidak setuju 5,76%. "apakah anda setuju apabila pemilihan rektor tanpa campr tangan pihak luar?",hasilnya 88,43% setuju dan tidak setuju 16,66%.

    Dari hasil polling tersebut terlihat bahwa sebenarnya responden tidak tahu dengan isu yang ada. Pemilihan rektor pada waktu itu dilakukan oleh sekelompok elit yaitu guru besar kemudian hasilnya ditetapkan oleh presiden, mahasiswa tidak dilibatkan sama sekali. Berdasar polling 53,74% mahasiswa setuju dengan mekanisme tersebut. Namun, hal ini kontradiksi dengan jawaban pertanyaan kedua karena 93,42% mahasiswa menginginkan dilibatkan dalam pemilihan rektor bahkan yang lebih kontradiksi lagi dengan pertanyaan pertama adalah hasil temuan untuk jawaban pertanyaan ketiga, 88,43% setuju dalam pemilihan rektor tidak ada campur tangan pihak luar. Inilah pentingnya pemahaman isu bagi responden.

  5. Bagaimana sudut pandang dan rumusan pertanyaan yang dipakai?
  6. Hasil polling sangat mudah dipertanyakan validitasnya, karena polling umumnya menanyakan masalah yang kompleks, tetapi ditanyakan secara cepat dan sederhana. Dalam membaca polling tidak cukup terpaku pada jawaban atas pertanyaan, tetapi perlu menilai bagaimana jawaban itu diproduksi lewat sudut pandang tertentu. Misalnya isu mengenai pamswakarsa, masyarakat mungkn setuju dengan kehadiran pamswakarsa jika pertanyaan dikaitkan dengan bentuk pengamanan bagi warga masyarakat. Tetapi tingkat persejutuan itu akan berubah jika kehadiran pamswakarsa tersebut dikaitkan dengan upaya untuk menghentikan demosntrasi mahasiswa. Inilah arti sudut pandang pertanyaan dalam polling.

    Rumusan pertanyaan juga membantu dalam memahami temuan polling. Tahun 1992 majalah editor pernah melakukan polling mengenai pengalaman seks pelajar di Jakarta. Polling itu mengklaim menemukan bahwa 41% remaja pernah bersetubuh (berhubungan layaknya suami istri). Mungkin akan terperanjat manakala memabca dengan data ini. Tetapi apakah sesungguhnya pertanyaan yang ditanyakan dalam polling majalah tersebut? Majalah itu menanyakan apakah pengalaman seks yang pernah anda alami? (a) menyenggol/memegang/meraba/membelai bagian tubuh yang peka milik lawan jenis. (b) meraba alat vital lawan jenis. (c) berciuman dengan lawan jenis (d) bersetubu dengan lawan jenis.

    Hasil polling dari pertanyaan tersebut untuk responden yang mengaku menyenggol/memegang/meraba/membelai bagian tubuh yang peka milik lawan jenis sebanyak 12%, responden yang mengaku meraba alat vital lawan jenis sebanyak 4%, responden yang mengaku berciuman dengan lawan jenis sebanyak 42%, dan responden yang mengaku bersetubuh dengan lawan jenis 41%.

    Betulkah 41% remaja pernah berhubungan seks? Pertanyaan polling editor ini terlalu membebani karena menganggap semua pelajar (minimal semua responden) pernah melakukan seksual. Padahal tidak semua pelajar pernah melakukan hubungan seksual. Lagi pula, dengan bentuk pertanyaan yang seperti itu tentu saja hasilnya akan mencengangkan, karena hanya itu pilihan yang diberikan kepada responden. Responden tidak punya alternatif pilihan lain. Sehingga distribusinya akan mengerucut ke satu atau beberapa pilihan yang ada. Distribusi jawaban itu akan lain jika pertanyaannya, "apakah anda pernah mempunyai pengalaman seks dengan lawan jenis? Ya-tidak. Jika ya, pengalaman seks apa yang pernah anda alami? Dengan pertanyaan seperti ini kemungkinan distribusi jawaban akan berubah. Dari sini dpat dilihat bahwa temuan polling sangat tergantung bagaimana pertanyaan itu disampaikan kepada responden.

  7. Bagaimana pengumpulan data dilakukan dan kapan wawancara diselengarakan?
  8. Kita perlu mempertanyakan metode apa yang dipakai dalam wawancara, apakah polling dilakukan lewat surat, telepon ataukah wawancara langsung kepada responden. Polling yang baik bukan memakai seluruh metode tetapi memilih metode yang sesuai dengan tujuan polling. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.

    Berkaitan dengan polling lewat telepon atau sms di TV atau Radio Yanti Sugarda dari Polling Center mengatakan hal itu adalah polling palsu, sebab pengambilan sampel tidak menggunakan prinsip probabilitas. Senada dengan Yanti Sugarda, Direktur National Opinion Research Center (NORC) mengatakan "polling jenis ini tidak mempunyai nilai apa-apa kecuali sekedar memenuhi rasa ingin tahu saja" hal ini disebabkan anggota masyarakat memilih dirinya sebagai sampel. Sementara itu berkaitan dengan wawancara dan publikasi, publikasi dilakukan waktu isu masih hangat dan sehabis pengumpulan data lewat wawancara selesai.

  9. Apakah ada masalah non Attitude?

Masalah tidak berpendapat menjadi penting dalam pelaksanaan polling di Indonesia karena banyak masyarakat yang masih takut dalam menyampaikan pendapatnya. Litbang kompas pernah melakukan polling mengenai kehadiran Komite Independen Pemantau Pemilu. Salah satu item pertanyaan yang ditanyakan adalah, "apakah anda setuju dengan pembentukan KIPP? Distribusi jawaban yang muncul adalah setuju 49,9%, tidak setuju 5,9% dan tidak mau menjawab 7,6%tidak tahu 36,6%. Pemilu taun 1997 yang lalu pilih apa? PPP 1,7 %, golkar 18,5%, PDI 3,8% golput 2,2% , pikir-pikr 20,6% tidak mau menjawab 52,5%

Hasil polling di atas dapat dilihat bahwa lebih dari 50 % tidak mau menjawab ketika diwawancarai atau 43,2% responden tidak tahu dengan KIPP. Angka dalam polling itu harus ditafsirkan bahwa masyarakat dalam kondisi takut untuk berbicara mengenai persoalan-persoalan politik. Hal seperti inilah yang dikatakan masalah non attitude. Dengan adanya masalah non attitude seperti di atas polling tidak akan mampu mengungkap pendapat umum dengan baik, atau akan muncul angka-angka bias.

  1. Kesimpulan

Polling merupakan metode yang cepat untuk mengukur pendapat umum, dengan menyebarkan kuisioner orang dapat mengumpulkan pendapat pribadi kemudian menampilkannya sebagai ekspresi pendapat umum. Merebaknya pemilik hp dan telepon menambah semakin meriahnya polling di berbagai media, namun di sisi lain ketidakstandaran penggunaan metodologi polling mengakibatkan munculnya polling palsu. Ada beberapa hal yang perlu masyarakat ketahui agar ketika membaca temuan polling tidak mudah terbuai dengan angka-angka polling antara lain dengan mencemati ;

  1. Identitas Sponsor dan Penyelenggara polling
  2. Rumusan pertanyaan yang diajukan
  3. Populasi dan kerangka sampel yang dipakai untuk mengidentifikasi populasi
  4. Prosedur pengambilan sampel
  5. Presisi dari temuan polling (estimasi sampling error)
  6. Infromasi apakah hasil didasarkan pada sebagian dari sampel ataukah sampel keseluruhan (populasi)
  7. Metode, lokasi, dan waktu pengumpulan data

Sementara itu bagi penyelengggara polling dengan mencantumkan beberapa hal diatas akan membantu masyarakat memahami temuan polling dan menyebabkan polling yang diselenggarakannya dapat dipercaya oleh masyarakat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Djarwanto, Drs. 2001, Statistik Sosial Ekonomi, Yogyakarta, BPFE
  2. Eriyanto, 1999, Metodologi Polling memberdayakan Suara rakyat, Bandung Rosda karya
  3. Husain, Moh, 2004, Angka Palsu dan Quick Caunt, Suara meredeka, 11 Juli 2004
  4. Lembaga Penerangan Pendidikan dan Penelitian Ekonomi Sosial Laporan, 2003, Survai Kandidat Presiden Menjelang Pemilu 2004, Jakarta, CESDA-LP3ES
  5. Lembaga Penerangan Pendidikan dan Penelitian Ekonomi Sosial Laporan, 2003, Survai Kandidat Presiden Menjelang Pemilu 2004, Jakarta, CESDA-LP3ES
  6. Qodari, Muhammad.2004, Melek "Polling" Pemilu, Kompas 19 Januari 2004
  7. Samsul arifin, 2004, Moh. Membaca hasil "Polling" tentang Capres/cawapres, Pikiran rakyat 9 Juni 2004
  8. Sugarda, Yanti ,. 2004, Polling Merupakan Alat Untuk Mendengar Suara Rakyat, www. Perspeektif baru. Net
  9. Usman, Husaini & Akbar,Purnomo Setiady. 2001,. Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta, Bumi Aksara
  10. Kompas, 27 maret 1996
  11. Solopos, 12 Juli 2004
  12. Editor, No 03/thn IV/10 Oktober 1992
  13. Balairung, Edisi khusus/thn VIII/1994