Make your own free website on Tripod.com

HUKUM RIMBA MENJELANG PEMILU

 

Thomas Hobbes pernah mengatakan manusia adalah srigala bagi manusia lain (homo homini lupus). Mungkin kita bertanya-tanya mengapa Hobbes mengatakan demikian, padahal Hobbes bukan hidup di jaman purbakala, dimana manusia saling bunuh membunuh saling makan memakan. Namun, Hobbes hidup di jaman yang sudah mulai berkembang, teknologi mulai merayap di relung-relung kehidupan para manusia. Lalu apa yang melatar belakangi Hobbes mengatakan demikian?

Thomas Hobbes adalah ilmuwan Prancis. Dia hidup di tengah-tengah majunya peradapan kapitalis. Dalam negara yang menganut kapitalisme segala sesuatu di ukur dengan uang (kapital). Orang dikatakan bahagia dan terhormat apabila mempunyai kapital yang banyak. Pekerjaan seseorang dikatakan baik apabila menghasilkan kapital yang besar walaupun mungkin bukan bekerja di gedung bertingkat dan di ruang yang ber-AC. Singkatnya masyarakat kapitalis adalah masyarakat yang mendewakan uang, modal atau kapital.

Sementara itu secara naluriah manusia mempunyai fitrah untuk di hormati, dan karena terhormat itu dalam pandangan mereka adalah yang berharta banyak maka ujung-ujungnya mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang (kapital) tersebut. Berakar dari sinilah nantinya akan muncul berbagai konflik. Orang yang mempunyai kedudukan dimana kedudukan adalah sumber uang akan senantiasa berpikiran negatif terhadap orang lain, orang yang mengkritik dianggapnya orang yang akan menjatuhkannya. Orang yang cepat karirnya dianggap sebagai lawan yang setiap saat akan merebut atau menggantikan kedudukannya. Akibatnya mereka yang di atas akan berusaha menghambat yang di bawah, sedangkan orang di bawah yang ingin berkuasa di atas berusaha dengan segala cara karena yang di atas walaupun sudah jelas-jelas bersalah tidak mau digantikan. Di sinilah nampak bahwa manusia adalah srigala bagi manusia yang lainnya.

Di dalam pemilu 2004 mendatang tipe-tipe manusia seperti di atas akan nampak. Para pemimpin Parpol (partai politik) akan saling mencurigai pimpinan parpol yang lain. Para pendukung parpol pun juga tidak ketinggalan.

Sementara itu bagi orang yang berpikiran praktis dan oportunis, hari-hari menjelang pemilu merupakan hari-hari yang paling tepat untuk mengali uang dan mengeruk keuntungan. Mereka "menodong" para caleg (calon legislatif) untuk memberikan uang, kaos atau sembako. Untuk sebagaian yang lain, mereka menciptakan kondisi yang menegangkan kemudian menawarkan diri untuk upaya pengamanan. Bahasa singkatnya mereka adalah kaum preman yang pandai menciptakan keadaan dan memanfaatkannya.

Mereka hanya berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Mereka tidak tahu bahwa pada keadaan berikutnya, merekaakan menjadi sapi perahan. Yang sudah jadi pejabat akan mengambil dan menggunakan fasilitas milik rakyat, dan lain sebagainya. Di sinilah balas membalas terjadi, ini semua akibat negara yang masyarakatnya telah tersusupi kapitalisme.

Rakyat kecil kembali yang menjadi tumpal keserakahan dan kebrutalan ambisi sebagaian masyarakat yang mabuk akan kekuasaan dan kedudukan. Mereka juga menjadi tumbal kebengisan orang yang berpikiran praktis yaitu hanya untuk sekedar menadapatkan uang. Melihat hal ini semua dapat dikatakan bahwa agenda reformasi belum tuntas, perubahan format sistem perekonomian dan pemerintahan mestinya tidak hanya berhenti sampai di sini namun tetap perlu dicarikan format lain yang menguntungkan dan mensejahterakan rakyat banyak. Mahasiswa, rakyat dan para pejabat yang berhati mulia di perlukan dalam mengkonsepkan format tersebut. Dan hal ini sangat-sangat ditunggu oleh masyarakat banyak.